Jumat, 20 Juli 2012
Hok Cay telah Berpulang
Tinju Pro Surabaya dan Jawa Timur kehilangan salah seorang pembinanya. Hok Cay yang selama ini aktif mengikuti perkembangan tinju Jawa Timur telah meninggal dunia pada Senin (16/7/2012). Menurut Mohammad Rois, sekretaris KTI Jawa Timur, Hok Cay akan dimakamkan di Kembang Kuning pada 23 Juli 2012. Seluruh pengurus KTI Surabaya dan Jawa Timur turut berbelasungkawa atas kepergian Hok Cay. Semoga amal ibadahnya diterima Tuhan YME.
Senin, 02 Juli 2012
Tommy Seran Dijajal Iwan Key di NTT
Jadwal pertarungan Tommy Seran baru ada
pada September mendatang. Nah, sambil menunggu waktu naik ring itu tiba, petinju
asal sasana Rokatenda Sidoarjo tersebut akan melakukan pemanasan dalam sebuah
kejuaraan nasional di Soe, Nusa Tenggara Timur, 13 Juli nanti.
Dalam kejuaraan tersebut, Tommy akan
ditantang Iwan Key asal Dhory Gym Malang dalam pertarungan delapan ronde di
kelas terbang 50 kg. Meski ini pertarungan nongelar, Tommy menyatakan bahwa dirinya
tak mau lengah. Sejumlah persiapan khusus dilakukan jelang laga tersebut.
”Semua lawan bagi saya tantangannya
sangat berat. Sebab, mereka memiliki kelebihan masing-masing. Itu yang membuat
saya harus mempersiapkan diri dengan baik,” ujar Tommy kemarin (2/7).
Bagi Tommy, kejuaraan tersebut sangat
penting karena sekaligus sebagai persiapan untuk mempertahankan sabuk juara WBC
Aspac di Maumere, 29 September mendatang. ”Jadi, saya akan memanfaatkan event ini untuk mengasah ketajaman dan
naluri bertanding. Sebagai petinju profesional, kami memang membutuhkan banyak
jam terbang,” kata dia.
Pelatih Rokatenda Sidoarjo Yani
Malhendo menyatakan bahwa persiapan yang dilakukan Tommy selama ini sudah cukup
maksimal. Terutama power punch Tommy yang terus menunjukkan peningkatan.
”Jadi, event ini adalah momentum yang
pas untuk Tommy bisa menunjukkan kemampuannya sebelum turun di event internasional,” sambungnya.
Selain Tommy, mantan juara kelas
ringan junior versi PABA Roy Mukhlis akan ikut mengambil bagian. Petinju yang
saat ini bergabung di Sasana GRIB Surabaya tersebut akan menantang Feeder
Blegur (Abraham BC Jakarta) dalam pertarungan 12 ronde di kelas ringan junior
(58,9 kg).
Mikdon Neddi Tanaem, promotor kejuaraan,
menambahkan bahwa selain Tommy dan Mukhlis, gengsi kejuaraan tersebut semakin
tinggi lantaran dimanfaatkan sebagai event
persahabatan antara Indonesia dan Timor Leste. Sebab, ada beberapa petinju dari
Timor Leste yang mengambil bagian. ”Kami ingin membangun pembinaan tinju lintas
negara. Mungkin event ini adalah
langkah awal,” kata Neddi dari Nekmese Promotion. (Jawa Pos)
Partai Kejuaraan
Kelas Bantam (53,5 kg/12 ronde)
- Gun Tinular (Extrajoss BC,
Tangerang) v Bajawa Junior (Flobamora BC, NTT)
Kelas Ringan Junior (58,9 kg/12
ronde)
- Feeder Blegur (Abraham BC, Jakarta)
v Roy Mukhlis (Grib BC, Surabaya)
Kelas Terbang (50 kg/8 ronde)
- Tommy Seran (Rokatenda BC) v Iwan
Key (Dhory Gym, Malang)
Kelas Ringan Junior (58,9 kg/6 ronde)
- Yacob Ton (Nek Mese BC, Surabaya) v
Otnel Negrito Baptista (Thomas Americo BC, Timor Leste)
Kelas Terbang (50,8 kg/6 ronde)
- Pieter Nesi (Pirih BC, Surabaya) v
Delio Fernandes (Thomas Americo BC, Timor Leste)
Jumat, 25 Mei 2012
WBO Tunjuk M Rois Jadi Hakim Kejuaraan Dunia
Muhammad Rois, putra Jawa
Timur kembali dipercaya badan tinju dunia WBO (World Boxing Organization). Guru
SMPN 36 Surabaya
itu ditunjuk menjadi salah satu hakim
dalam pertandingan kejuaraan dunia kelas terbang jr. antara Donnie Nietes (Filipina)
v Felipe Salguero (Meksiko) dalam pertandingan di Manila pada 2 Juni 2012.
Penunjukan ini bukan hanya membanggakan bagi
insan tinju Jawa Timur, namun juga nasional, karena bukan hanya kali ini Rois
dipercaya badan tinju dunia menjadi hakim atau wasit. Selain WBO, sekretaris
KTI Jawa Timur itu juga biasa ditugaskan oleh badan tinju dunia IBF
(international boxing federation).
Kini Rois ibaratnya menjadi penerus dari
wasit dan hakim tinju asal Jawa Timur Jopie Limahelu (alm) yang sering ditunjuk
IBF menjadi hakim atau wasit dalam kejuaraan dunia di luar negeri.
Minggu, 06 Mei 2012
Rabu, 04 April 2012
Afrizal Tewas Setelah Pendarahan Otak
Pada saat tinju pro Indonesia mencoba bangkit, salah seorang petinjunya malah tewas setelah naik ring. Ya, petinju kelas bulu bernama Afrizal akhirnya mengembuskan nafas terakhir setelah menjalani perawatan pascaoperasi pembedahan kepala di RS UKI Jakarta , Rabu (4/4), pukul 05.00 WIB.
Petinju asal Sasana PDAM Padang tersebut pada Sabtu malam (31/3) berupaya mempertahankan gelarnya melawan Irvan Marbun dalam ajang Gelar Tinju Profesional Indosiar (GTPI).
Namun dalam pertarungan 12 ronde yang dipimpin wasit Erik Suwarno tersebut ia dinyatakan kalah angka.
Menurut keterangan dokter RS UKI Jakarta Tommy Halauwet, sang petinju terbilang terlambat untuk dirujuk karena pembedahan seharusnya dilakukan pada malam saat korban diketahui mengalami pendarahan di kepala.
’’Kami baru mengoperasi pada Minggu (1/4) pukul 10.00. Padahal kejadiannya sudah berlangsung begitu lama. Namun kami tetap berusaha untuk memberikan harapan hidup untuknya,’’ ujar Tommy.
Kematian yang dialami Afrizal ini menambah panjang deretan petinju yang meninggal dunia seusai melakoni pertarungan. Ia merupakan petinju ke-24 sepanjang sejarah dunia tinju profesionalIndonesia yang meninggal selepas bertanding.
Jenazah Afrizal pukul 08.00 WIB sudah diterbangkan keMedan , Sumatera Utara, untuk dimakamkan.
Dari sejumlah peristiwa kematian petinju, kasus yang menimpa juara kelas bulu Alfaridzie seusai menghadapi Kongthawat Ora (Thailand) pada 2001 di Jakarta, menjadi isu panas dunia tinju nasional. Jaminan keamanan dan keselamatan petinju memaksa pemerintah ikut campur dengan memaksimal peran Badan Pengembangan dan Pengawasan Olahraga Profesional Indonesia (BPPOPI).
Namun dalam pertarungan 12 ronde yang dipimpin wasit Erik Suwarno tersebut ia dinyatakan kalah angka.
Menurut keterangan dokter RS UKI Jakarta Tommy Halauwet, sang petinju terbilang terlambat untuk dirujuk karena pembedahan seharusnya dilakukan pada malam saat korban diketahui mengalami pendarahan di kepala.
’’Kami baru mengoperasi pada Minggu (1/4) pukul 10.00. Padahal kejadiannya sudah berlangsung begitu lama. Namun kami tetap berusaha untuk memberikan harapan hidup untuknya,’’ ujar Tommy.
Kematian yang dialami Afrizal ini menambah panjang deretan petinju yang meninggal dunia seusai melakoni pertarungan. Ia merupakan petinju ke-24 sepanjang sejarah dunia tinju profesional
Jenazah Afrizal pukul 08.00 WIB sudah diterbangkan ke
Dari sejumlah peristiwa kematian petinju, kasus yang menimpa juara kelas bulu Alfaridzie seusai menghadapi Kongthawat Ora (Thailand) pada 2001 di Jakarta, menjadi isu panas dunia tinju nasional. Jaminan keamanan dan keselamatan petinju memaksa pemerintah ikut campur dengan memaksimal peran Badan Pengembangan dan Pengawasan Olahraga Profesional Indonesia (BPPOPI).
Daftar Petinju yang Tewas setelah Bertanding:
1948 Surabaya : Jimmy Koko (lawan Meyer)
1950 Surabaya : Rocky Wang atau Ricky Huang (lawan VIC Suatman)
1959 Surabaya : Robby Pav (lawan Mohammad Yali)
1961 ---: Sarono (lawan Tan Hwa Soei)
1978 Bandung : Atjeng Jim (lawan Kai Siong)
1979 ---: Nasir Kitu
1980 ---: Syamsul Bachri
1984 Jakarta : Domo Hutabarat (lawan Dadang Krinsa)
1985 --- : Suryanto
1987 Jayapura: Agus Souissa (lawan Michael Arthur)
1988 Blitar: Wahab Bahari (lawan Hudi)
1988 ---: Suryanto (lawan John Bonnex)
23 Desember 1990 Bontang: Bongguk Kendy (lawan Bisenti Santoso)
15 Juli 1993 Jakarta : Yance Samangun (lawan: Mahmud)
11 Mei 1995 Jakarta : Akbar Maulana (lawan Bugiarso)
16 Juni 2000 Jakarta : Dipo Saloko (lawan Roy Saragih)
18 November 2000 Belawan: Bayu Young Iray (lawan Herianto Kalam)
11 Maret 2001 Bekasi: John Namtilu (lawan: Hasan Purba)
2 April 2001 Cibinong: Muhammad Alfaridzi (lawan Kongthawat Ora Sorkiti)
28 Oktober 2001 Manado : Donny Maramis (lawan Stenly Kalalo)
4 Februari 2003 Jakarta : Johannes "Bones" Fransiscus (lawan Slamet Nizar). "Bones" wafat pada 6 Februari 2003)
21 September 2003 Sumatera Utara: Mula Sinaga--Petinju Amatir-- (lawan Asahan Tuerino. Mula Sinaga wafat pada 24 September 2003)
23 Januari 2004 Jakarta : Antonius Jonathan Mosse (lawan Kaichon sor Vorapin)
19 Februari 2004 Purwokerto: Jack Ryan (lawan Syamsul Hidayat)
5 Maret 2005 Jakarta : Hendrik Bira (lawan Mones Arepas - Bira kalah TKO pada ronde ketiga pada 3 Maret 2005)
16 Juni 2006 Manado : Fadly Kasim (lawan Jibril Soamole. Kasim kalah TKO 6)
15 Maret 2007 Jakarta : Anis Dwi Mulya (lawan Irvan Bone). Anis kalah TKO ronde 6, wafat pada 20 Maret 2007.
31 Maret 2012
Wongso Indrajit Berpulang
Wongso Indrajit (52) mantan petinju profesional asal Sasana Sawunggaling Surabaya ditemukan meninggal di kamarnya Jl Kapten Tendean, Kota Kediri, Selasa (3/4/2012). Semasa hidupnya Wongso pernah menjadi juara kelas bantam versi WBC International pada 1989.
Meninggalnya, Wongso Indrajit, asal Kepanjen, Kabupaten Malang ini membuat kaget teman-temannya yang tinggal di mes. Mereka tidak mengira rekannya meninggal mendadak saat tertidur pulas.
Di Kediri, Wongso Indrajit bekerja sebagai juru tagih di KSU Niaga Jl Sukarno Hatta, Tepus, Kabupaten Kediri. Korban sudah enam bulan bergabung menjadi salah satu pegawai KSU Niaga.
Kasubag Humas Polres Kediri Kota AKP Surono menjelaskan, petugas kepolisian telah mendatangi TKP kamar mes tempat korban meninggal. Dari hasil pemeriksaan luar tidak ditemukan tanda-tanda bekas kekerasan di tubuhnya.
Jenasahnya sempat dikirim ke RS Baptis, Kota Kediri sebelum dipulangkan ke tempat tinggalnya diMalang .
’’Petugas telah mengirim jenazahnya RS Baptis untuk dilakukan periksaan medis,’’ jelas Surono.
Dari keterangan rekan-rekannya yang tinggal di mes menyebutkan, malam sebelum korban diketahui meninggal sempat tidur. Namun ketika pagi hendak dibangunkan ternyata Wongso sudah meninggal.
Karena belum diketahui secara pasti penyebab kematiannya, petugas melakukan olah TKP serta meminta keterangan sejumlah saksi.Ada dugaan korban meninggal karena terkena serangan jantung. "Karena meninggal mendadak, diduga korban terkena serangan jantung,” jelasnya.
Humas RS Baptis Thomas saat dikonfirmasi Surya menjelaskan, Wongso Indrajit memang sempat dibawa ke IGD pukul 7.50 WIB, hanya saja korban sudah dalam kondisi meninggal. Selanjutnya pukul 9.00 WIB jenasahnya dibawa keluarganya keMalang .
Sementara Totok, Manajer KSU Niaga saat dikonfirmasi menjelaskan, anak buahnya diduga meninggal karena terkena serangan jantung. Apalagi korban sebelumnya juga punya riwayat sakit jantung dan tekanan darah tinggi. “Pak Wongso diketahui meninggal pukul 4.00 WIB diduga karena serangan jantung,” ujarnya.
Wongso Indrajit mengawali tanding empat rondean. Dia meraih hasil seri melawan Moh Idansah di kelas terbang super pada 29 November 1981. Dia juga sempat menghadapi Elly Pical dalam perebutan juara KTI pada 1 November 1983, namun dia kalah angka. Dia juga pernah menantang juara OPBF pada 25 Maret 1990, namun dia dikalahkan petinju Korsel Lee Eun-sik dengan KO ronde pertama di Gyeongi-do Korsel.
Meninggalnya, Wongso Indrajit, asal Kepanjen, Kabupaten Malang ini membuat kaget teman-temannya yang tinggal di mes. Mereka tidak mengira rekannya meninggal mendadak saat tertidur pulas.
Di Kediri, Wongso Indrajit bekerja sebagai juru tagih di KSU Niaga Jl Sukarno Hatta, Tepus, Kabupaten Kediri. Korban sudah enam bulan bergabung menjadi salah satu pegawai KSU Niaga.
Kasubag Humas Polres Kediri Kota AKP Surono menjelaskan, petugas kepolisian telah mendatangi TKP kamar mes tempat korban meninggal. Dari hasil pemeriksaan luar tidak ditemukan tanda-tanda bekas kekerasan di tubuhnya.
Jenasahnya sempat dikirim ke RS Baptis, Kota Kediri sebelum dipulangkan ke tempat tinggalnya di
’’Petugas telah mengirim jenazahnya RS Baptis untuk dilakukan periksaan medis,’’ jelas Surono.
Dari keterangan rekan-rekannya yang tinggal di mes menyebutkan, malam sebelum korban diketahui meninggal sempat tidur. Namun ketika pagi hendak dibangunkan ternyata Wongso sudah meninggal.
Karena belum diketahui secara pasti penyebab kematiannya, petugas melakukan olah TKP serta meminta keterangan sejumlah saksi.
Humas RS Baptis Thomas saat dikonfirmasi Surya menjelaskan, Wongso Indrajit memang sempat dibawa ke IGD pukul 7.50 WIB, hanya saja korban sudah dalam kondisi meninggal. Selanjutnya pukul 9.00 WIB jenasahnya dibawa keluarganya ke
Sementara Totok, Manajer KSU Niaga saat dikonfirmasi menjelaskan, anak buahnya diduga meninggal karena terkena serangan jantung. Apalagi korban sebelumnya juga punya riwayat sakit jantung dan tekanan darah tinggi. “Pak Wongso diketahui meninggal pukul 4.00 WIB diduga karena serangan jantung,” ujarnya.
Wongso Indrajit mengawali tanding empat rondean. Dia meraih hasil seri melawan Moh Idansah di kelas terbang super pada 29 November 1981. Dia juga sempat menghadapi Elly Pical dalam perebutan juara KTI pada 1 November 1983, namun dia kalah angka. Dia juga pernah menantang juara OPBF pada 25 Maret 1990, namun dia dikalahkan petinju Korsel Lee Eun-sik dengan KO ronde pertama di Gyeongi-do Korsel.
Langganan:
Postingan (Atom)

