Selasa, 29 Juli 2014
Tito Digodok di Australia
Hero Tito, petinju asal sasana d’Kross, Malang, kini
menjalani program latihan di Australia.
Dia diharapkan menjadi petinju Indonesia
yang bisa meroket seperti Chris John yang digembleng oleh pelatih Craig
Cristian.
Pemilik sasana d’Kross Ade Herwanto, mengatakan
program latihan dilakukan selama beberapa pekan. Latihan diisi dengan
serangkaian latihan tanding menghadapi sederet petinju andal, termasuk Daud
Cino Jordan.
’’Beberapa waktu lalu, Hero Tito juga telah
melaksanakan serangkaian persiapan intensif di Australia. Tapi itu belum cukup, ia
kembali bertolak ke Australia
untuk melanjutkan program persiapan, yang sudah disusun pelatih Craig Cristian,”
tutur Ade.
Ade menyatakan, Hero merupakan salah satu
petinju yang diandalkan Indonesia,
untuk terus berprestasi ke jenjang internasional. Bahkan, ia
digadang-gadang bisa menggantikan kiprah mantan juara dunia Chris John.
Hal tersebut dinilainya tidak
berlebihan, sebab Hero sekarang sudah mempunyai modal berharga, dengan menjadi
juara kelas ringan junior Indonesia
versi Federasi Tinju Indonesia (FTI) dan Komisi Tinju Profesional Indonesia
(KTPI).
’’Prestasi tersebut sangat kami apresiasi.
Bahkan, memotivasi kami untuk terus memaksimalkan persiapan Hero,” jelasnya.
Ia juga menyatakan, Christian yang
menangani Hero selama di Australia,
sebenarnya melirik potensi Hero untuk bisa diproyeksikan bersama-sama Daud Jordan, sebagai
calon juara dunia pengganti Chris John.
’’Untuk itu, Christian berharap petinjunya
sukses menjawab tantangan tersebut dengan semangat tempur tinggi dan ketekunan
berlatih, serta disiplin penuh selama di Perth, Australia,”
pungkasnya. (sprta)
Jumat, 27 Desember 2013
Main di Papua Siapa Takut
Gagal merebut sabuk juara Komisi
Tinju Profesional Indonesia (KTPI) dari tangan petinju Manado Espinos Sabu pada
Oktober lalu, Frans Jacksen mulai berburu gelar lagi.
Ya, petinju asal Manggarai,
Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu sudah mendapat tawaran untuk naik ring
di Papua pada Januari mendatang. Bila rencana tersebut benar-benar terealisasi,
itu adalah kali kedua dia bertarung di Papua dalam enam bulan terakhir.
’’Pertengahan tahun ini dia
(Frans, Red) pernah bertarung di sana.
Saat ini dia mendapat tawaran untuk naik ring lagi di sana. Ini adalah peluang bagus bagi dia untuk
mengembalikan kepercayaan dirinya,’’ kaya Yani Malhendo, pelatih tinju di Sasana
Rokatenda.
Menurut pria asal Bima, Nusa
Tenggara Barat (NTB), itu, tawaran naik ring tersebut datang langsung dari M.
Rachman yang tidak lain adalah mantan juara dunia tinju kelas terbang mini
(47,6 kg) asal Indonesia.
Memang, dalam kejuaraan tersebut, M. Rachman bertindak sebagai promotor kejuaraan.
’’Rachman sendiri yang
meminta Frans bertarung di sana.
Jadi, tugas kami saat ini ialah memberikan program latihan dengan maksimal agar
Frans bisa tampil bagus dan membawa pulang hasil bagus dari Papua,’’ ujar pria
yang pernah memegang sabuk juara IBF itu.
Hanya, lanjut Yani, Rachman
belum memberitahukan siapa lawan yang akan dihadapi Frans di Papua. ’’Tapi,
prinsip kami, semua petinju di Indonesia
sama saja. Yang membedakan mereka adalah
siapa yang memiliki persiapan dan program latihan lebih bagus,’’ tegas Yani.
Sementara itu, Frans mengatakan
bahwa dirinya cukup senang dengan adanya tawaran tersebut. Sebab, selain untuk
memperbaiki peringkat di level nasional, dia mendapat kesempatan untuk
memperbaiki mental bertandingnya setelah kekalahan dari Espinos Sabu pada Oktober
lalu. Dalam pertarungan yang berlangsung
di Jakarta itu,
Frans kalah TKO (technical knockout) pada ronde ke-7 di antara 12 ronde
yang direncanakan.
’’Tidak banyak petinju yang
sering mendapatkan tawaran naik ring seperti ini. Bagi saya, ini peluang emas. Saya
harus berusaha memaksimalkannya,’’ ucapnya.(jp)
Minggu, 13 Oktober 2013
Sikat Haya, Mukhlis Juara WBO Aspac
Asia Pasific (Aspac). Prestasi apik itu didapat
setelah Roy Mukhlis (GRIB Jatim) berhasil menang angka mutlak atas Weng Haya
(Filipina) dalam duel perebutan gelar lowong kelas ringan 61,2 kg WBO Asia
Pasific dan Sabuk Emas Pangdam V Brawijaya Surabaya di GOR Hayam Wuruk Kodam V
Brawijaya, Sabtu malam (12/10).
Dalam
pertarungan yang disaksikan oleh ratusan penonton itu, Hakim A Salven Lagumbay
(Filipina) memberikan nilai 115-113, Hakim B Eric S (Jakarta) 117-111, dan
Hakim C, Bambang (Gresik) memberikan nilai 116-112 untuk kemenangan Roy Mukhlis.
”Ini
pertarungan yang sangat luar biasa, lawan tampil diluar dugaan. Tapi, Alhamdulillah
saya bisa mengatasinya dalam pertarungan tadi (kemarin, Red),” kata petinju
asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu setelah pertarungan sebagaimana
dikutip Jawa Pos.
Weng
Haya memang terlihat cukup tangguh sepanjang pertarungan. Selain didukung
dengan kondisi fisik yang prima, Weng juga memiliki speed punch yang sangat bagus serta pergerakan kaki yang lincah.
Kondisi tersebut yang membuat Roy
tak mampu memenuhi ambisinya menyelesaikan pertarungan pada ronde ketujuh dari
total 12 ronde yang direncanakan.
”Saya
sebenarnya punya peluang untuk jatuhkan dia (Weng) di ronde ketujuh. Tetapi lawan
banyak main curang dan suka merangkul. Itu yang membuat ruang gerak saya
semakin terbatas,” keluh Roy
atas cara bermain Weng Haya yang selalu merangkul itu.
Sejak
ronde pertama, kedua petinju memang sudah tampil impresif dengan saling jual
beli pukulan. Bahkan, saat ronde pembuka itu baru berjalan satu menit Roy
Mukhlis mampu mendesak Weng Haya di
sudut netral, kombinasi pukulan hook
dan upper cut keras berhasil membuat
sang lawan tertekan. Di ronde kedua, kombinasi pukulan Weng Haya ke arah perut
dan wajah Roy
juga membuat dia bisa keluar dari tekanan.
Tensi
pertandingan naik saat memasuki ronde ketiga setelah kedua petinju sama-sama mempertontonkan
kebolehan dan teknik bertinju mereka. Saat memasuki ronde keempat berjalan satu
menit kedua petinju gencar dengan jual beli pukulan. Dalam ronde ini Roy sempat jatuh. Namun,
wasit M Rois asal Surabaya
tidak memberikan angka bagi Weng. Wasit memutuskan Roy jatuh bukan karena pukulan tapi karena
terpelset. Roy
juga sempat jatuh di ronde keenam, tapi wasit memutuskan itu bukan akibat
pukulan tapi terpeleset.
Karena
dua kali melihat lawannya jatuh tapi juga tak diberikan angka, Weng Haya
meradang. Setelah pertandingan, dia menyebut lebih pantas memenangkan laga itu.
”Kenapa lawan dua kali jatuh tapi tak dihitung, ini tidak adil bagi kami,”
protes petinju dengan nama asli Wilson Vismar Ogso itu.
Sementara itu, Mikdon Neddy Tanaem, sang
promotor mengatakan bahwa ambisi mereka untuk memboyong Roy ke pentas tinju dunia sudah bulat. ”Kami
akan memaksimalkan persiapan Roy
terlebih dahulu. Tentu dengan memperbanyak jadwal sparring bagi dia,” jelas
Neddy.
Jumat, 11 Oktober 2013
Roy Mukhlis vs Weng Haya Berebut Gelar WBO Aspac
Sabtu malam (12/10) menjadi pertaruhan
karir petinju Roy Mukhlis (Sasana GRIB Jatim) untuk merebut juara kelas ringan
(61,2) versi WBO Asia Pasific (Aspac) di GOR Hayam Wuruk Surabaya . Dia akan menghadapi petinju
Filipina Weng Haya dalam perebutan gelar yang sedang lowong.
”Ini kesempatan terbaik yang dimiliki oleh
Roy Mukhlis. Sebab, kalau dia berhasil memenangkan pertarungan ini, maka sudah
pasti Indonesia
punya satu wakil di level WBO Asia Pasific. Peluang ini wajib direbut oleh Roy
Mukhlis,” kata Mikdon Neddy Tanaem, promotor pertandingan.
Menurut pria yang juga pengusaha di bidang jasa ekspor dan
impor itu, dirinya sudah merencanakan karir Roy Mukhlis di level dunia. Hanya
saja, Roy harus
mampu menunjukkan penampilan terbaiknya dalam pertarungan yang juga
memperebutkan sabuk emas Pangdam V Brawijaya Surabaya itu.
Ya, pada akhir
2010 lalu, Roy Mukhlis pernah memiliki kesempatan untuk merebut gelar juara
dunia WBA saat melawan Takashi Uchiyama di Jepang. Sayang, saat itu
keberuntungan belum berpihak kepada Roy
Mukhlis. Petinju asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini kalah TKO pada ronde
kelima.
Dalam kesempatan terpisah Roy Mukhlis mengatakan bahwa dirinya
telah banyak belajar dari kekalahan di Jepang. Bahkan, beberapa kelemahan
seperti strategi bertarung yang terlalu terbuka juga sudah dia evaluasi. ”Saya
tidak mau mengambil resiko, saya harus berjuang habis-habisan untuk gelar ini,”
tegasnya sebagaimana dikutip Jawa Pos.
Memang, apabila dilihat dari rekor bertanding kedua
petinju, Roy Mukhlis masih unggul di atas kertas. Dari 30 kali naik ring, Roy
Mukhlis sudah mengoleksi 26 kemenangan (20 KO), 2 kali seri dan dua kali kalah.
Sementara Weng Haya 17 kali menang (9 KO) dan enam kali kalah (3 KO) dari total
23 pertandingan.
Roy Mukhlis juga diunggulkan dalam
pertarungan ini, lantaran sang lawan baru mengalami kekalahan KO pada ronde
kedua saat bentrok melawan Miguel Berchelt di Meksiko, 22 Juni lalu.
Bagaimana
dengan Haya? Petinju kelahiran Mandaue
City , Cebu Filipina 24
tahun silam ini juga tak keder dengan sesumbar petinju tuan rumah. ’’Persiapan
saya di Filipina juga sangat maksimal, dan saya yakin bisa meraih kemenangan di
sini,’’ kata Wilson Vismar Ogso, nama asli Weng Haya.
Markus Remiasa, ketua panitia kejuaraan mengatakan, pertandingan yang digratiskan untuk penonton tersebut akan menjadi tolok ukur pergelaran tinju profesional di Jatim," Kami memang sudah bertekad untuk meningkatkan frekuensi tinju di Jatim, tapi kalau perhelatan ini sukses, kami optimistis kejuaraan dengan level paling tinggi juga bisa terlaksana di Jatim," tegas Remiasa.
Markus Remiasa, ketua panitia kejuaraan mengatakan, pertandingan yang digratiskan untuk penonton tersebut akan menjadi tolok ukur pergelaran tinju profesional di Jatim," Kami memang sudah bertekad untuk meningkatkan frekuensi tinju di Jatim, tapi kalau perhelatan ini sukses, kami optimistis kejuaraan dengan level paling tinggi juga bisa terlaksana di Jatim," tegas Remiasa.
Partai Lainnya
1.
Jacob Ton (Nekmese BC Surabaya ) v Beny Tamaela (Linduji BC
Solo) Kelas Welter Jr 63.5 Kg.
2.
Beniqno (Sasando BC
Tangerang) v Hanif Brawijaya (Arhanudse 8 BC Sidoarjo) Kelas bulu 55.3 Kg
3.
Rivo Rengkung (Linduji BC
Solo) v Otnel Negrito (Thomas Americo BC Dili Timor Leste) Kelas bulu 57.1 Kg
4.
Rachmad Budi
(Arema Singo Edan BC) v Delio Fernandes (Thomas Americo BC, Dili) Kelas terbang
50.8 Kg.
Selasa, 30 Juli 2013
Roy Mukhlis Dicarikan Lawan
Lama tidak bertanding membuat
petinju Roy Mukhlis ngebet bertanding. Petinju Sasana GRIB Surabaya itu pun
menyambut gembira ketika dirinya akan bertanding pada 10 November mendatang di Surabaya . Menurut rencana
dia akan bertanding di badan tinju IBF.
Sayang, ’’Belum ada kabar dari manajemen
terkait siapa yang akan menjadi lawan saya. Jadi, saat ini latihan yang saya
lakukan masih persiapan umum saja,’’ kaa Roy ,
kemarin (27/7)
Padahal menurut Roy ,
untuk turun dalam laga internasional, sebaiknya dia mengetahui kandidat lawannya
lebih dini. Dengan pertimbangan, agar persiapan yang dilakukan bisa lebih fokus
dan sistematis. ’’Karena melawan petinju dari luar memiliki tantangan
tersendiri,’’ timpalnya.
Semetara itu, Yani Malhendo, pelatih Roy Mukhlis mengatakan
bahwa saat ini pihak promotor Abdul Salam dan Nedy Mikdon Tanaem sedang
berusaha mencari lawan yang ideal bagi petinju binaannya tersebut. Salah
satunya dengan membangun komunkasi dengan promotor tinju beberapa negara di
Asia Tenggara.
’’Pihak promotor dan manajemen tidak tinggal diam untuk
masalah ini, saya yakin dalam waktu dekat sudah ada kandidat lawan bagi Roy . Tapi, tugas kami saat
ini adalah bagaimana mempersiapkan Roy
sebaik mungkin agar dia bisa maksimal dalam kejuaraan ini,’’ ucapnya.
Meski begitu, Yani mengatakan bahwa besar kemungkinan lawan
yang akan dihadapi oleh Roy dalam kejuaraan yang
bertepatan dengan hari Pahlawan Nasional itu akan berasal dari negara-negara Asia . Seperti ,
Thailand ,
Filipina, Jepang dan Korea Selatan.
’’Pihak
promotor memang punya ambisi dan rencana untuk Senin, 27 Mei 2013
Robert Kopa Bungkam Jason Butar Butar
Kesempatan bagi Robert Kopa untuk
merebut kembali sejumlah gelar nasional terbuka. Itu setelah Robert mengalahkan Jason Butar-Butar (Kodam Jaya BC) Jakarta dalam pertarungan di Korem 084 Bhaskara Jaya, Surabaya , pada Sabtu malam
lalu (25/5).
Dalam pertarungan
untuk memperebutkan sabuk emas Ad Interim Federasi Tinju Indonesia (FTI) dan
sabuk emas Danrem 084 Bhaskara Jaya itu, Jason memberikan perlawanan sengit
pada Robert. Apalagi, dia adalah mantan juara nasional di dua badan tinju
berbeda, Komisi Tinju Indonesia (KTI) dan Asosiasi Tinju Indonesia (ATI).
’’Ini
termasuk salah satu kemenangan terpenting saya dalam kejuaraan tinju lokal.
Selain berhasil menaklukan lawan yang cukup berat, kesempatan saya untuk
kembali merebut gelar nasional saya yang hilang semakin terbuka,’’ kata petinju
asal Sasana Rokatenda Sidoarjo itu.
Sebagaimana
diketahui, sebelumnya Robert adalah juara tiga badan tinju Indonesia . Yaitu, Komisi Tinju Indonesia
(KTI), Asosiasi Tinju Indonesia (ATI) dan Komisi Tinju Pro Indonesia (KTPI).
Namun, semua gelar ini hilang setelah dia kalah dari petinju Jepang Hiroshige
Osawa awal April tahun lalu.
Sementara
itu, petinju-petinju asal Sasana Surabaya berhasil mendominasi kejuaraan
tersebut. Selain Robert, ada juga Julio De La Bazes dari sasan GRIB
BC Surabaya
yang juga menang angka mutlak atas Juniston Simbolon (Sasana Putra Batu-Bara)
Sumut. Dengan hasil itu, petinju gaek
ini berhasil membawa pulang sabuk emas nasional FTI Ad Interim kelas ringan
junior (58,9kg ).
Frans Damur dari Rokatenda Sidoarjo
pun tidak mau ketinggalan. Melalui pertarungan sengit, Frans berhasil menang
TKO atas Sami Hagler dari KPC Bulungan BC Jakarta
di kelas Bantam Junior 52,2 kg.
Komandan Korem 084 Bhaskara Jaya Surabaya, Kolonel
(Inf) Wisnoe Prasetyo Budi menjelaskan bahwa mereka bertekad untuk memajukan
tinju profesional dan amatir di Surabaya. ’’Kami akan terus berupaya untuk
menghidupkan kembali semangat tinju pro di Surabaya. Dulu Surabaya adalah kiblat
tinju nasional, sekarang citra itu harus hidup lagi,’’ harapnya.(JP)
Langganan:
Postingan (Atom)




