Rabu, 09 Februari 2011

Hero Tito Akan Pertahankan Gelar KTI

Setelah mengkanvaskan Edi Chomaro di ronde ketiga pada 28 Januari lalu di Semarang, petinju andalan Kota Malang, Hero Tito kembali naik ring bulan ini. Ia dijadwalkan bertanding di Semarang, untuk mempertahankan sabuk juara nasional kelas bulu 57,1 kg versi KTI.
Hal ini diungkapkan oleh pelatih tinju sasana D’Kross, Nurhuda kemarin (9/2). Meski dijadwalkan naik ring pada Februari ini, namun pihaknya belum mendapatkan nama petinju yang menjadi lawan Hero. ”Kami belum mendapatkan kabar dari Mely Rambing (promotor),” katanya.
Walaupun belum mendapatkan nama, namun Nurhuda yakin Hero bakal bisa melalui pertarungan ini. Ini tak lepas dari pertarungan Hero melawan Edi. Jadi, kans Hero kali ini cukup terbuka untuk mempertahankan gelar.
”Meski harus naik ke kelas ringan junior, tapi Hero toh bisa mengatasi Edi yang notabene juara kelas ringan junior versi ATI,” katanya.
Selain Hero, pelatih yang juga owner sasana Jaguar, Kedungkandang ini juga menyebut ada petinju lain yang akan naik ring. Di kelas terbang ada nama Max Moushin yang juga akan melakoni partai tambahan bersamaan tampilnya Hero. ”Hanya saja, seperti halnya Hero, lawan Moushin juga masih belum ditentukan,” kata dia.
Meski begitu, Nurhuda mengatakan bahwa semakin seringnya petinju Malang bertanding, maka ini bisa menjadi pertanda baik bagi dunia tinju di Kota Malang. Ia yakin, Kota Malang bisa kembali berjaya seperti era 80-an.

Selasa, 01 Februari 2011

Ingin Juara KTI, Darsim Naik Kelas


Petinju Darsim Nanggala mengambil keputusan berarti demi menyelamatkan karirnya. Merasa sering overweight alias kelebihan berat badan menjelang pertarungan di kelas welter (66,6 kilogram), petinju asal Sasana Amphibi itu berencana naik kelas.
Kelas baru yang ditempati Darsim adalah menengah junior (69,8 kilogram). Alasannya, dalam tiga pertarungan terakhir, berat badan bapak dua anak tersebut sering melonjak ke angka itu. Faktor sedikitnya pesaing di kelas tersebut juga jadi pertimbangan.
Nah, Darsim mengungkapkan, kepindahannya itu sudah dibicarakan dengan pelatihnya, Lato Vegas dan Beni Belonis. ”Pada dasarnya mereka setuju saja. Karena saya memang kesusahan mengontrol berat badan saya di angka 66 kilogram,” kata petinju kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, itu.
Pasca kekalahan atas William Raick, akhir Januari lalu Darsim berkonsultasi dengan tim kesehatan Sasana Amphibi. Hasilnya, para dokter menyimpulkan bahwa petinju berusia 31 tahun tersebut bertipe petinju yang berat badannya gampang naik, tetapi sulit turun.
”Daripada saya selalu diet ketat menjelang pertarungan, lebih baik pindah kelas saja,” ucap Darsim. Bahkan, untuk pertarungan pertamanya di kelas menengah junior, Darsim sudah mendapatkan tantangan. Rencananya, Dwi Amx asal Sasana Sakti, Bandung, menjadi lawannya.
Pertarungan perbaikan peringkat versi Komisi Tinju Indonesia (KTI) akan dilaksanakan Maret di studio TVRI, Jakarta. Dwi Amx adalah lawan yang mengalahkan rekan satu sasana Darsim, Arga Soka, pada November lalu di Jakarta.
Di sisi lain, pelatih Beni Belonis merestui jika anak asuhnya naik kelas. ”Persaingan di kelas menengah junior lebih sedikit. Hasil pantauan saya, hanya ada delapan atau sembilan petinju kuat,” ujar Beni. Apalagi sebagai pendatang baru, Darsim punya kesempatan emas. Lawan yang ditantangnya, Dwi Amx, adalah petinju peringkat ketiga KTI. (Jawa Pos)